dan Dia Telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya (Surat Al-Furqan ayat 2)

Cari Blog, Situs, Website, Facebook, Twitter, Youtube, Metacafe

Kamis, 05 April 2012

Mengapa Ada Ujian Dan Cobaan ?

Ujian dan cobaan hidup merupakan Sunnatullah, hukum Allah yang bersifat pasti dan tetap, berlaku kepada siapapun, kapan dan di mana pun, sebagaimana Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?” [QS Al-Ankabut (29):2]
“Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta” [QS Al-Ankabut (29):3]
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”[QS AL BAQARAH (2):155]
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan” [QS AL-ANBIYA (21):35]
MENGAPA HARUS DI UJI ?
Sesungguhnya ujian dan cobaan itu adalah Rahmat dan Kasih sayang Allah terhadap hamba-NYA. Sungguh berbagai cobaan hidup itu bertujuan untuk mengetahui secara lahiriyah mana di antara mereka yang pandai bersyukur dan mana pula yang kufur, mana yang bersabar dan mana pula yang cepat putus asa bahkan dusta.
'Hanya orang2 yg bersabarlah yg disempurnakan pahalanya tanpa batas' (QS. Az-Zumar : 10).
Oleh karena itu, senantiasa bersabar dan bersyukurlah diatas segala ujian dan cobaan. Niscaya akan menjadi hamba2 yang dicintai Allah, sebagaimana Rasulullah Shallallahu’allaihi wassalam bersabda, “Sesungguhnya jika Allah subhanahu wa Ta'ala mencintai hamba-NYA, DIA akan mengujinya”.(HR.At-Tirmidzi )
APA SAJA YG MENJADI UJIAN DAN COBAAN ?
Tidak sedikit orang yg menganggap bahwa ujian dan cobaan itu hanyalah yang berupa MUSIBAH, kecelakaan dan bencana, kesulitan dan kesempitan hidup dan yg semisal. Padahal sesungguhnya Ujian dan Cobaan hidup itu tidak hanya berupa Musibah, sesuatu yang dirasakan berat dan menyakitkan, bisa pula berupa kebaikan dan kenikmatan yang menyenangkan (Istidroj), sebagaimana Firman-NYA, Allah akan menguji hamba-NYA dengan “Keburukan dan Kebaikan (QS 21:35).
Rasulullah Shallallahu’allaihi wassalam bersabda,“Cobaan itu akan selalu menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, pada anaknya, ataupun pada hartanya, sehingga ia bertemu dengan Allah tanpa dosa sedikitpun”(HR. Tirmidzi)
Cobaan hidup yang berupa keburukan dan kesulitan biasanya lebih mudah dipahami, semisal mengalami sakit, hilang harta benda, kesulitan dan kesempitan hidup dsb. Dalam kondisi demikian biasanya kita akan segera berdoa dan mengharapkan pertolongan serta rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Berbeda dengan cobaan hidup yang berupa kebaikan dan kenikmatan. Banyak yg beranggapan bahwa Harta Kekayaan, Pangkat dan Jabatan dan yg sedemikian itu adalah atas hasil usaha dan jerih payahnya, sehingga lalai (Istidroj) bahwa sesungguhnya dibalik itu semua adalah ujian dan cobaan. Demikian halnya terhadap amalan ibadah, karena dibalik itu semua, syetan akan menggoda dan menghantui hati manusia untuk riya, ujub dan sum’ah atas segala amalan ibadah kita. Sebagaimana Rasulullah shallallahu’allaihi wa’salam bersabda, "Bagi tiap sesuatu terdapat ujian dan cobaan, dan ujian serta cobaan terhadap umatku ialah harta-benda."(HR. Tirmidzi)
Ketika ditimpa kesulitan, banyak orang yang langsung ingat kepada Allah dan selalu menyebut Asma-Nya, bersujud dan berjanji akan menjadi orang yang baik. Namun, tatkala terlepas dari kesulitan dan kesempitan hidup bahkan telah mampu tegak berdiri tanpa bantuan orang lain, berubahlah sikap mereka. Banyak di antara mereka yang kemudian menjadi congkak, sombong, berlaku zalim kepada sesamanya, dan bahkan mulai berani menentang perintah-Nya.
Allah subhanahu wa Ta’ala mrngingatkan,
“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangaur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui”(QS Al-A'raf (7):182).
MAMPUKAH KITA MENGHADAPI UJIAN DAN COBAAN-NYA ?
Setiap insan pasti mampu menghadapi dan menjalani segala ujian dan cobaan-NYA, karena sesungguhnya Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya. Maka janganlah pernah bersikap lemah, agar derajat kita ditinggikan oleh-NYA, sebagaimana Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo'a): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." [QS AL BAQARAH (2) :286]
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”[QS ALI IMRAN (3) :139]
Ingatlah bahwa musibah yang kita hadapi belum seberapa
Rasulullah shallallahu‘alaihi wa’sallam seringkali dicaci, dicemooh dan disiksa oleh orang-orang musyrik dengan berbagai cara. Kalau kita mengingat musibah yang menimpa beliau, maka kita akan merasa ringan menghadapi musibah kita sendiri karena musibah kita tidaklah seberapa dibandingkan atas apa yang Beliau rasakan.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
لِيَعْزِ المسْلِمِيْنَ فِي مَصَائِبِهِمْ المصِيْبَةُ بي
“Musibah yang menimpaku sungguh akan menghibur kaum muslimin.”
(Shahih Al Jami', 5459, dari Al Qosim bin Muhammad)
Dalam lafazh yang lain disebutkan,
مَنْ عَظَمَتْ مُصِيْبَتُهُ فَلْيَذْكُرْ مُصِيْبَتِي، فَإِنَّهَا سَتَهَوَّنُ عَلَيْهِ مُصِيْبَتُهُ
“Siapa saja yang terasa berat ketika menghapi musibah, maka ingatlah musibah yang menimpaku. Ia tentu akan merasa ringan menghadapi musibah tersebut.”(Ibnu 'Abdil Barr, hal. 249, Mawqi' Al Waroq)
Ketahuilah bahwa semakin kuat iman seseorang, maka akan semakin diuji
Dari Mush’ab bin Sa’id (seorang tabi’in) dari ayahnya, ia berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً
“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
« الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »
“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.”(HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad Darimi no. 2783, Ahmad (1/185)
Sa'ad bin Abi Waqqash berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya ?". Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Para nabi, kemudian yang meniru (menyerupai) mereka dan yang meniru (menyerupai) mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamanya tipis (lemah) dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (keras). Seseorang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa”(HR. Imam Bukhari )
BAGAIMANA MENGHADAPI UJIAN DAN COBAAN ?
Dalam mengarungi kehidupan, setiap orang pasti akan mengalami pasang surut. Kadang seseorang mendapatkan nikmat dan kadang pula mendapatkan musibah atau cobaan. Semuanya datang silih berganti. Kewajiban kita adalah bersabar ketika mendapati musibah dan bersyukur ketika mendapatkan nikmat Allah. Bertawakallah serta senantiasa menjaga hati dan lisan untuk tidak berkeluh kesah. Hadapilah segala ujian dan cobaan dengan bersabar dan bersyukur.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولَى
“Yang namanya sabar seharusnya dimulai ketika awal ditimpa musibah.”(HR. Bukhari no. 1283, dari Anas bin Malik)
"Barangsiapa yang merasa cukup, maka Allah akan memberinya kecukupan. Dan siapa yang bersikap iffah (menjaga kehormatan harga diri), maka Allah akan memuliakannya. Dan barangsiapa yang berusaha untuk selalu sabar, maka Allah akan memberinya kesabaran. Dan tidaklah seseorang diberi sesuatu yang lebih baik dan lapang daripada kesabaran."(Sunan Tirmidzi : 1747)
Dan Ingatlah firman Allah,
'Hanya orang2 yg bersabarlah yg disempurnakan pahalanya tanpa batas' (QS. Az-Zumar : 10).
Sulit dan terasa beratnya bersikap sabar dan bersyukur, hal ini terjadi karena manusia senantiasa terhanyut oleh berbagai kemudahan, tertipu oleh berbagai perasaan, tertipu oleh hawa nafsunya, oleh karena itu maka hendaklah senantiasa mengingat Allah agar hati menjadi tenteram, sebagaimana firman-NYA,
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” [QS.13:28]
Orang mukmin yang benar-benar bertakwa adalah orang yang bisa bersabar ketika menghadapi kesulitan dan penderitaan. Mampu bersyukur ketika mendapatkan berbagai macam kenikmatan, sehingga mampu menyikapinya untuk sesuatu yang diridhai-Nya dan dirasakan manfaatnya oleh siapapun. Sabar dan syukur inilah yang harus senantiasa kita jaga dalam kehidupan ini, dan dalam menghadapi segala ujian dan cobaan illahi.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Tholaq (65):3)
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu” (QS AL BAQARAH (2):45)
“Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu”(QS AR RUUM (30) : 60)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman karena segala perkaranya adalah baik. Jika ia mendapatkan kenikmatan, ia bersyukur karena (mengetahui) bahwa hal itu memang baik baginya. Jika tertimpa musibah atau kesulitan, ia bersabar karena (mengetahui) bahwa hal itu baik baginya."
(HR Muslim).
Kesabaran dapat menghapuskan dosa, sebagaimana Rasulullah shallallahu’allaihi wasallam bersabda, "Tidaklah seorang Muslim mendapatkan kelelahan, sakit, kecemasan, kesedihan, marabahaya, dan juga kesusahan hingga duri menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan hal tersebut."
[HR Bukhari dan Muslim]
HIKMAH DIBALIK UJIAN DAN COBAAN
Hendaklah setiap mukmin mengimani bahwa setiap yang Allah kehendaki pasti ada hikmah di balik itu semua, baik hikmah tersebut kita ketahui atau tidak kita ketahui. Dan Sesungguhnya Allah subhananhu wa Ta’ala telah mengingatkan kita dalam firman-NYA,
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. [QS AL BAQARAH (2):216]
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun".
Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. [QS AL BAQARAH (2):155-157]
“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu”[QS MUHAMMAD (47):31]
Rasulullah shalallahu’allaihi wasallam bersabda : "Allah telah berfirman: Sekiranya Aku uji salah seorang hamba-Ku yang mu'min, lalu ia memuji-Ku atas apa yang telah Aku ujikan itu (niscaya Aku akan perintahkan kepada Malaikat-Ku agar) berilah pahala yang bersambungan baginya, sebagaimana pahala yang biasa kalian berikan". (HR. Ahmad dan Thabrani)
Ummu Salamah -salah satu istri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam- berkata bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
أُمَّ سَلَمَةَ زَوْجَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- تَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَجَرَهُ اللَّهُ فِى مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا ». قَالَتْ فَلَمَّا تُوُفِّىَ أَبُو سَلَمَةَ قُلْتُ كَمَا أَمَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخْلَفَ اللَّهُ لِى خَيْرًا مِنْهُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.
“Siapa saja dari hamba yang tertimpa suatu musibah lalu ia mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji'un. Allahumma'jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa”
(Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah yang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik]”, maka Allah akan memberinya ganjaran dalam musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik)
Ketika, Abu Salamah (suamiku) wafat, aku pun menyebut do'a sebagaimana yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam perintahkan padaku. Allah pun memberiku suami yang lebih baik dari suamiku yang dulu yaitu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.” (HR. Muslim no. 918)
Yakinlah bahwa sesungguhnya di balik kesulitan ada kemudahan
Seandainya kesulitan masuk ke dalam suatu lubang, maka kemudahan pun akan mengikutinya. Satu kesulitan tidaklah mungkin akan mampu mengalahkan dua kemudahan, sebagaimana Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
“sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” [QS AL INSYIRA’AH (94):5-6]
“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan”
(QS. Ath Tholaq (65): 7)
MUHASABAH
Musibah dan cobaan bisa saja disebabkan dosa-dosa yang pernah kita perbuat baik itu kesyirikan, bid’ah, dosa besar dan maksiat lainnya. Sebagaimana dalam firman-NYA
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu”[QS ASY SYURA (42):30]
Wallahu’alam bish showab
(http://id-id.facebook.com/notes/rindu-baitullah/ujian-cobaan/209293202470223?comment_id=2156781)

“Semoga bermanfaat bagi kita semua,amin”.

Iwan Fals - Untukmu Terkasih

Proses pembuatan lagu "Untukmu Terkasih" berjalan dengan cepat. Sore itu langit di atas kampung Cipeucang, Cileungsi, Bogor, sedang cerah. Tiba-tiba aku mendapat ide untuk menulis syair lagu "Untukmu Terkasih". Syair itu aku tulis di handphone kemudian aku kirim ke handphone Iwan Fals yang saat itu sedang berada di luar Jawa untuk melakukan konser. Setelah mendapat lirik lagu tersebut Iwan langsung komentar lewat sms. "Wah lirik lagumu itu bikin kepalaku cenut-cenut!" kata Iwan Fals. Setelah menjadi lagu, lagu tersebut disimpan dalam laptopnya. Ketika Iwan Fals konser dirumahnya, lagu "Untukmu Terkasih" ikut dinyanyikan hanya dengan gitar akustik sesuai dengan konsepku seperti konsep album "Belum Ada Judul". Gimana menurut teman-teman? Aku mau berbagi saja soal proses pembuatan lagu itu.
-Fajar Budiman- (dicopy dari iwanfals.co.id)

Lagu ini sudah diperkenalkan sejak 2008 di situs resmi Iwan Fals. Dan pertama kali dinyanyikan di layar kaca pada musik special Iwan Fals di Trans7, 14 Maret 2009.

Untukmu Terkasih
Lirik: Fajar Budiman
Lagu: Iwan Fals

Kasih…
Ketika hati, rasa dan jiwa
Serta apa saja yang tersembunyi di dada ini
Mulai tergetar

Karena keindahan matamu
Karena kelembutan senyummu
Karena taburan kasihmu
Justru bayangmu semakin sulit kurengkuh

Sementara
Gelombang rindu
Gelombang kasih sayang terus mengalir
Bagai air dimusim penghujan

Bagai gelombang samudera
Yang mengguncang pantai kehidupan
Hmm…

Kasih ini nyanyian cinta untukmu
Yang entah ada dimana kini
Biar engkau mengerti apa yang terjadi
Dalam hidupku

Kabut sunyi mulai merayap dihati
Bayangmu semakin sulit kucari
Aku tak tahu harus berbuat apa
Angin dan burung-burung pun membisu
Ketika kutanya tentangmu, tentang getaran hatimu
Tentang apa saja yang bertalian dengan jiwamu

Kabut sunyi mulai merayap dihati
Bayangmu semakin sulit kucari
Aku tak tahu harus berbuat apa
Angin dan burung-burung pun membisu
Ketika kutanya tentangmu, tentang getaran hatimu
Tentang apa saja yang bertalian dengan jiwamu
Oohhh…
(Dari blog sebelah : http://www.iwanfalsmania.com/2009/03/untukmu-terkasih.html)



Download saja langsung videonya gan :)
http://www.youtube.com/watch?v=grAtFjMO_lk

Sabtu, 13 Agustus 2011

Mencintai Dalam Hening (Untukmu wanita,....)

maukah ku beritahukan padamu bagaimana mencintai dengan indah...
Inginkah ku bisikkan bagaimana mencintai dengan syahdu....

Maka dengarlah.....

...saat ku jatuh cinta.....
Tak akan ku berucap
Tak akan ku berkata.
Namun ku hanya akan diam.............

Saat ku mencintai, takkan pernah ku menyatakan
Tak akan ku menggoreskan
Yang ku lakukan hanyalah diam.........

Aku tahu,...
cinta adalah fitrah...sebuah anugrah tak terperih....
Karena cinta adalah kehidupan
Karena rasa itu adalah cahaya

Aku tahu,...
hidup tanpa cinta, bagaikan hidup dalam gelap gulita

Namun...
Saat rasa itu menyapa, maka hadapi dengan anggun
Karena rasa itu ibarat belenggu pelangi, dengan begitu banyak warna
Cinta terkadang membuatmu bahagia, namun tak jarang membuatmu menderita
Cinta ada kalanya manis bagaikan gula,
Namun juga mampu memberi pahit yang sangat getir
Cinta adalah perangkap rasa
Sekali kau salah berlaku,
maka kau akan terkungkung dalam waktu yang lama dalam lingkaran derita

Maka...
Agar kau dapat keluar dari belenggu itu
Dan mampu melaluinya degan anggun
Maka mencintailah dalam hening

Dalam diam....

Tak perlu kau lari, tak perlu kau hindari
Namun juga, jangan kau sikapi degan berlebihan
Jangan kau umbar rasamu
Jangan kau tumpahkan segala sukamu

Cobalah merenung sejenak dan fikirkan dengan tenang
Kita percaya takdir bukan?

Kita tahu dengan sangat jelas.....
Dia, Allah telah mengatur segalanya dengan begitu rapinya?
Jadi, apa yang kau risaukan?
Biarkan Allah yang mengaturnya,
Dan yakinlah di tangan-Nya semua akan baik-baik saja

Cobalah renungkan...
Dia yang kau cinta,
belum tentu atau mungkin tak akan pernah menjadi milikmu
Dia yang kau puja,
yang kau ingat saat siang dan yang kau tangisi ketika malam,
Akankah dia yang telah Allah takdirkan denganmu?

wanita,...
kita tak tahu dan tak akan pernah tahu
Hingga saatnya tiba..

Maka, ku ingatkan padamu,,,
tidakkah kau malu jika semua rasa telah kau umbar
Namun ternyata kelak bukan kau yang dia pilih untuk mendampingi hidupnya?

...Karena cinta kita begitu agung untuk di umbar
Begitu mulia untuk di tampakkan
Begitu sakral untuk di tumpahkan

Dan sadarilah... fitrah wanita adalah pemalu,
Dan kau indah karena sifat malumu

Lalu, masihkah kau tampak menawan jika rasa malu itu telah di nafikan?
Masihkah kau tampak bestari jika malu itu telah kau singkap

wanita,,,jadikan malu sebagai selendangmu
Maka tawan hatimu sendiri dalam sangkar keimanan
Dalam jeruji kesetiaan

Yah....
Kesetiaan padanya yang telah Allah tuliskan namamu dan namanya di Lauhul Mahfuzh
Jauh sebelum bumi dan langit dicipta

Maka cintailah dalam hening
Agar jika memang bukan dia yang ditakdirkan untukmu,
Maka cukuplah Allah dan kau yang tahu segala rasamu
Agar kesucianmu tetap terjaga
Agar keanggunanmu tetap terbias

Pegang kendali hatimu…
Jangan kau lepaskan…
Acuhkan semua godaan yang menghampirimu
Cinta bukan untuk kau hancurkan, bukan untuk kau musnahkan
Namun cinta hanya butuh kau kendalikan, hanya cukup kau arahkan

wanita...
yang kau butuhkan hanya waktu, sabar dan percaya
Maka, peganglah kendali hatimu,
Lalu.....
Arahkan pada Nya
Dan cintailah dalam diam
Dalam hening.....
Itu jauh lebih indah......

Jauh lebih suci............

Sampai waktu mempertemukanmu dengan pasangan Halal mu
dan ijab Qabul yang meng Halal kan mu

Minggu, 07 Agustus 2011

Apa yang akan saya lakukan menjelang ‘ketuaan’ saya itu?

Belajar tidak ingin menyakiti orang lain, ingin orang lain gembira dan bahagia, mengkhawatirkan keselamatan orang lain, takut mengalami sesuatu yang agak berbahaya, lebih ingin selalu memaafkan, tidak ingin lagi membanggakan sesuatu yang dianggap umum sesuatu yang keren, gengsi bukan lagi hal yang dirasa hebat, tidak lagi takut dikalahkan, tidak terlalu sedih jika sebagian hak kita ‘dipakai’ orang, rasanya umur tinggal sedikit lagi dan perlu digunakan sebaik-baiknya dan semua rasa diatas itu makin menguat setiap waktu.
Apa yang akan saya lakukan menjelang ‘ketuaan’ saya itu?
Ketika usiaku remaja, kita serasa memiliki dunia. Sepertinya, apapun yang ingin kita lakukan, dapat kita lakukan. Segala kemudahan, semua peluang, semua keberhasilan, semua energi itu, kekuatan itu, ditambah rasa-rasa menyenangkan menjelang kematangan, rasa-rasa menyenangkan dalam pencapaian di segala hal… Semua itu terasa begitu nyata dan menyenangkan.
Dan bertambahnya usia, ternyata tidak menghentikan banyak kekhawatiran dan ketakutan. Itu yang makin tersirat. Ada rasa yang semakin menguat… yaitu kesadaran, akan keberadaanNya di dunia ini,,,
Tanpa menghilangkan segala kemungkinan… usia kita ada di tangan Allah SWT. Pertanyaannya…apakah kita harus menunggu tua, untuk mendapatkan ‘kesadaran’ itu?
Jawabannya, pasti akan sangat relatif dan beragam…
Andaikata saya masih diberi waktu untuk memilih… saya mencoba untuk selalu ‘tersadarkan’ di berapa pun usia saya. Bahwa waktu saya, berapa pun usia saya, tidak banyak lagi, dan entah kapan… Saya hanya ingin khusnul khotimah. Saya ingin ketika saatnya tiba, saya sedang dijalan-Nya… ketika saya sedang menjalankan perintahNya… Sedang melakukan sesuatu, demi untuk mendapat ridhaNya…
Semoga khauf dan raja’ itu, tetap melekat di jiwa… di berapa pun usia kita…

Thanks buat Om Widy Untuk renungannya :D

Senin, 23 Agustus 2010

IWAN FALS SOSOK PAHLAWAN SEDERHANA DAN KHARISMATIK

Nama asli
Virgiawan Listianto

Nama populer
Iwan Fals

Tempat/tanggal lahir
Jakarta, 3 September 1961

Alamat
Jl. Desa Leuwinanggung No. 19
Cimanggis, Bogor Jawa Barat

No. kontak Iwan Fals Management
Telp : 021-8455329 atau 021-8455330, Fax. : 021-8455330

Pendidikan
SMP 5 Bandung, SMAK BPK Bandung,
STP (Sekolah Tinggi Publisistik, sekarang IISIP),
Institut Kesenian Jakarta (IKJ)

Orang tua
Lies (ibu), Haryoso (ayah)

Istri
Rosanna (Mbak Yos)

Anak
Galang Rambu Anarki (almarhum)
Annisa Cikal Rambu Basae
Raya Rambu Rabbani

Lewat lagu-lagunya, ia memotret kehidupan dan sosial-budaya di akhir tahun 1970-an hingga sekarang. Kritik atas perilaku sekelompok orang (seperti Wakil Rakyat, Tante Lisa), empati bagi kelompok marginal (misalnya Siang Seberang Istana, Lonteku), atau bencana besar yang melanda Indonesia (atau kadang-kadang di luar Indonesia, seperti Ethiopia) mendominasi tema lagu-lagu yang dibawakannya. Iwan Fals tidak hanya menyanyikan lagu ciptaannya tetapi juga sejumlah pencipta lain.

Iwan yang juga sempat aktif di kegiatan olahraga, pernah meraih gelar Juara II Karate Tingkat Nasional, Juara IV Karate Tingkat Nasional 1989, sempat masuk pelatnas dan melatih karate di kampusnya, STP (Sekolah Tinggi Publisistik). Iwan juga sempat menjadi kolumnis di beberapa tabloid olah raga.

Kharisma seorang Iwan Fals sangat besar. Dia sangat dipuja oleh kaum 'akar rumput'. Kesederhanaannya menjadi panutan para penggemarnya yang tersebar di seluruh Nusantara. Para penggemar fanatik Iwan Fals bahkan mendirikan sebuah yayasan pada tanggal 16 Agustus 1999 yang disebut Yayasan Orang Indonesia atau biasa dikenal dengan seruan Oi. Yayasan ini mewadahi aktifitas para penggemar Iwan Fals. Hingga sekarang kantor cabang Oi dapat ditemui setiap penjuru Nusantara dan beberapa bahkan sampai ke mancanegara.

Perjalanan Hidup
Masa kecil Iwan Fals dihabiskan di Bandung, kemudian ikut saudaranya di Jeddah, Arab Saudi selama 8 bulan. Bakat musiknya makin terasah ketika ia berusia 13 tahun, di mana Iwan banyak menghabiskan waktunya dengan mengamen di Bandung. Bermain gitar dilakukannya sejak masih muda bahkan ia mengamen untuk melatih kemampuannya bergitar dan mencipta lagu. Ketika di SMP, Iwan menjadi gitaris dalama paduan suara sekolah.

Selanjutnya, datang ajakan untuk mengadu nasib di Jakarta dari seorang produser. Ia lalu menjual sepeda motornya untuk biaya membuat master. Iwan rekaman album pertama bersama rekan-rekannya, Toto Gunarto, Helmi, Bambang Bule yang tergabung dalam Amburadul. Tapi album tersebut gagal di pasaran dan Iwan kembali menjalani profesi sebagai pengamen.

Setelah dapat juara di festival musik country, Iwan ikut festival lagu humor. Arwah Setiawan (almarhum), lagu-lagu humor milik Iwan sempat direkam bersama Pepeng, Krisna, Nana Krip dan diproduksi oleh ABC Records. Tapi juga gagal dan hanya dikonsumsi oleh kalangan tertentu saja. Sampai akhirnya, perjalanan Iwan bekerja sama dengan Musica Studio. Sebelum ke Musica, Iwan sudah rekaman sekitar 4-5 album. Di Musica, barulah lagu-lagu Iwan digarap lebih serius. Album Sarjana Muda, misalnya, musiknya ditangani oleh Willy Soemantri.

Iwan tetap menjalani profesinya sebagai pengamen. Ia mengamen dengan mendatangi rumah ke rumah, kadang di Pasar Kaget atau Blok M. Album Sarjana Muda ternyata banyak diminati dan Iwan mulai mendapatkan berbagai tawaran untuk bernyanyi. Kemudian sempat masuk televisi setelah tahun 1987. Waktu siaran acara Manasuka Siaran Niaga di TVRI, lagu Oemar Bakri sempat ditayangkan di TVRI. Ketika anak kedua Iwan, Cikal lahir tahun 1985, kegiatan mengamen langsung dihentikan.

Selama Orde Baru, banyak jadwal acara konser Iwan yang dilarang dan dibatalkan oleh aparat pemerintah, karena lirik-lirik lagunya yang kritis.

Saat bergabung dengan kelompok SWAMI dan merilis album bertajuk SWAMI pada 1989, nama Iwan semakin meroket dengan mencetak hits Bento dan Bongkar yang sangat fenomenal. Perjalanan karir Iwan Fals terus menanjak ketika dia bergabung dengan Kantata Takwa pada 1990 yang di dukung penuh oleh pengusaha Setiawan Djodi. Konser-konser Kantata Takwa saat itu sampai sekarang dianggap sebagai konser musik yang terbesar dan termegah sepanjang sejarah musik Indonesia.

Keluarga
Iwan lahir di Jakarta pada 3 September 1961 dari pasangan Haryoso (ayah)(almarhum) dan Lies (ibu). Iwan menikahi Rosanna (Mbak Yos) dan mempunyai anak Galang Rambu Anarki (almarhum), Annisa Cikal Rambu Basae, dan Rayya Rambu Robbani.

Galang mengikuti jejak ayahnya terjun di bidang musik. Walaupun demikian, musik yang ia bawakan berbeda dengan yang telah menjadi trade mark ayahnya. Galang kemudian menjadi gitaris kelompok Bunga dan sempat merilis satu album perdana menjelang kematiannya.

Nama Galang juga dijadikan salah satu lagu Iwan, berjudul Galang Rambu Anarki pada album Opini , yang bercerita tentang kegelisahan orang tua menghadapi kenaikan harga-harga barang sebagai imbas dari kenaikan harga BBM pada awal tahun 1981 yaitu pada hari kelahiran Galang (1 Januari 1981).

Nama Cikal sebagai putri kedua juga diabadikan sebagai judul album dan judul lagu Iwan Fals yang terbit tahun 1991.

Galang Rambu Anarki meninggal pada bulan April 1997 secara mendadak yang membuat aktifitas bermusik Iwan Fals sempat vakum selama beberapa tahun. Galang dimakamkan di pekarangan rumah Iwan Fals di desa Leuwinanggung Bogor Jawa Barat sekitar satu jam perjalanan dari Jakarta. Sepeninggal Galang, Iwan sering menyibukkan diri dengan melukis dan berlatih bela diri.

Pada tahun 2002 Iwan mulai aktif lagi membuat album setelah sekian lama menyendiri dengan munculnya album Suara Hati yang di dalamnya terdapat lagu Hadapi Saja yang bercerita tentang kematian Galang Rambu Anarki. Pada lagu ini istri Iwan Fals (Yos) juga ikut menyumbangkan suaranya. [Sumber : Wikipedia] ***


Bicara soal Iwan Fals adalah bicara soal sosok yang belum ada duanya di dalam percaturan musik tanah air. Orang menyukainya bukan karena gemerlapnya gaya hidup, kegantengan, atau bahkan teknik vokalnya yang luar biasa. Sebaliknya, Iwan adalah seorang sosok yang sangat bersahaja (mekipun memang ganteng), apa adanya, dan bukan jebolan sekolah vokal mana pun. Ia mengawali karirnya benar-benar dari bawah.

Berangkat dari ngamen, ikut festival lagu-lagu humor (pernah jadi juara), hingga akhirnya menembus dapur rekaman. Itu pun tidak semulus yang kita bayangkan, karena rekaman pertamanya (sebelum Oemar Bakri) sempat jeblok. Pendeknya, Iwan Fals bisa seperti sekarang ini bukan dengan sim salabim. Dia tahu persis getirnya perjuangan untuk mencapai posisi yang saat ini diraihnya sebagai salah satu legenda musik Indonesia.

Salah satu yang saya sukai dari seorang Iwan Fals adalah kejujurannya, baik itu kejujuran dalam menuangkan ide-idenya ke dalam lirik lagu, maupun kejujurannya dalam bersikap. Simak saja bagaimana Iwan Fals mengungkap cinta misalnya.

'..hanya mampu katakan, aku cinta kau saat ini
entah esok hari, entah lusa nanti,
entah..' (ENTAH)

Di saat kebanyakan lirik lagu berlomba mengobral kata-kata muluk soal cinta, Iwan justru mengungkap cinta dengan cara yang berbeda, tidak munafik. Betapa sederhana, betapa jujur, karena bukankah tidak ada yang bisa menjamin bahwa kita bisa mencintai seseorang selamanya?

Hal lain yang saya kagumi dari Iwan Fals adalah kharisma. Ini juga muncul dengan sendirinya dan tidak dibuat-buat. Orang yang punya kharisma tentu lain dengan orang yang 'jaim'. Penyanyi Indonesia mana yang memiliki penggemar-penggemar yang berasal dari berbagai kalangan sekaligus? Bahkan usia mereka juga sangat variatif, dari mulai yang seusia dengan Iwan, sampai ABG. Demikian juga status sosial.

Lalu apa sebenarnya yang dimiliki Iwan Fals sehingga ia memiliki nama yang demikian besar? Beberapa sudah saya sebutkan di atas.

*
Kejujuran, terungkap dalam sikap kesehariannya maupun terutama lirik-lirik lagunya. Dan kejujuran ini yang justru menjadi kekuatan dari lirik-lirik lagu Iwan Fals. Dan konsekuensi dari kejujuran ini juga yang dulu sering membuat Iwan berurusan dengan aparat keamanan, ketika lagu-lagunya dianggap 'meresahkan' atau bahkan membuat merah kuping penguasa.
*
Kharismatik. Ini memang sebuah gift dari Tuhan. Orang tidak bisa mereka-reka supaya dirinya kelihatan memiliki kharisma. Di balik sikap yang apa adanya, Ian Fals punya kharisma yang membuat orang segan dan menghormatinya.
*
Sederhana. Pernahkah Anda melihat Iwan Fals tampil 'centil' dan modis? Dari dulu, kostum kegemarannya adalah jeans dan t-shirt.
*
Tidak arogan. Ia bisa ngobrol santai sebagai teman denan penggemarnya. Dulu saya punya teman yang bahkan sering nginep di rumah Iwan. Sikap tidak arogan yang juga bisa kita lihat adalah aksi kolaborasinya dengan musisi-musisi muda. Ia tidak kelihatan canggung dan khawatir dengan kehadiran mereka. Sebaliknya mereka malah dirangkul untuk bikin lagu buat dia nyanyikan. Hasilnya? Ceruk pasarnya malah bertambah ke semakin banyak kalangan, termasuk ABG.
*
Tentu masih banyak hal lain yang membuat Iwan Fals menjadi seperti sekarang ini. Sosok penyanyi/musisi Indonesia yang samasekali bukan karbitan. Ia meraih puncak karir benar-benar merangkak dari bawah. Tempaan itulah yang justru membuatnya bisa seperti sekarang. Berjuang dan menjadi pendekar bagi kalangan grass root melalui lagu-lagunya yang sarat dengan kritik sosial. Contoh fenomenal adalah lagu Oemar Bakri. Saat itu,mana ada yang berani mengangkat tema seperti itu? Atau tengok lagu Bento yang ditujukan untuk 'Kau Tahu Siapa' (minjem istilah Harry Potter untuk menyebut Voldemort), klan penguasa yang nyaris tidak pernah tersentuh hukum.

Ia memotret apa adanya lewat lagu, meski akibatnya kadang-kadang harus berseberangan, bahkan berbenturan dengan penguasa. Tak salah jika majalah Times sempat menjulukinya The Asian Hero. [sumber : http://panjalu.multiply.com] ***

OPEN HOUSE

Bagi kawan-kawan yang mau bertemu dan berdiskusi dengan Iwan Fals, datang saja ke open house di rumah Iwan Fals di Jl. Desa Leuwinanggung No. 19 Cimanggis, Bogor, Jawa Barat, setiap hari Selasa dan Jumat pukul 15.00 WIB.

Sebelum datang, harus mengkonfirmasikan kedatangan tersebut ke Iwan Fals Management (via Mbak Titin ) di no. telp 021-8455329 atau 021-8455330, Fax. 021-8455330. Hanya yang telah terjadwal yang bisa mengikuti open house.

Pada acara open house tidak diperbolehkan membawa kamera dan meminta tanda tangan. Hal ini karena Iwan meminta agar dia tidak diistimewakan dan dapat berdiskusi secara egaliter. ***
Sumber: http://iwan-fals.blogspot.com/search/label/Intro

Sabtu, 21 Agustus 2010

Dua anak kecil dan kursi tua

Disebuah gubuk di pinggiran hutan hiduplah sebuah keluarga yang terdiri kakek, Menantu dan kedua orang anaknya yang masih kecil.
Disuatu malam, ketika mereka semua menikmati makanan di yang tersaji di meja makan, terdengar suara yang gaduh karena kebiasaan seorang kakek yang setiap kali makan selalu memecahkan gelas dan piring karena ketidaksengajaannya akibat faktor usia.
Ibu Bapak tersebut selalu kesal dengan ulah Kakek, akhirnya pada hari berikut Ibu Bapak tersebut mempunyai ide kalau si Kakek akan di tempati di sebuah meja di pojok ruangan untuk mengantisipasi jikalau ketika makan malam lagi si kakek tidak akan membuat makan malam jadi berantakan lagi, karena Kakek tersebut berada di meja makan malamnya sendiri.
berselang beberapa hari kegaduhan pada saat makan malam tidak lagi terjadi selama beberapa hari, mungkin karena sang Kakek tidak lagi makan malam di satu meja dengan keluarga tersebut.
ketika makan malam berakhir, Ibu Bapak beranjak tidur beserta kedua anaknya, namun secara diam-diam kedua anak yang masih kecil itu bergegas keluar kamar menuju gudang belakang rumah. di tengah malam itu, Ibu Bapak terbangun karena suara ribut dari gudang belakang rumahnya. Ibu Bapak tersebut lantas keluar mencari sumber keributan, ternyata di dapatinya kedua anaknya sedang membuat meja dan kursi yang kecil, sambil terpana lantas Bapak Ibu itu menanyai kedua anaknya, "Nak, untuk apa kalian membuat kursi dan meja saat larut malam begini?"
kedua anaknya sambil tersenyum menjawab, "kelak kursi meja ini kuberikan buat Bapak dan Ibu ketika tua nanti untuk makan malam di pojok ruangan".
Bapak Ibu tersebut menangis sambil memeluk kedua anaknya dan segera meminta maaf kepada sang Kakek,pada hari berikutnya keluarga tersebut merasakan kembali nikmatnya makan malam dengan penuh kebersamaan lagi.

(Apapun yang kita lakukan kepada orang tua kita saat ini, kelak kita akan diperlakukan serupa oleh anak-anak kita sendiri) nau`dzu billah minzalik.

Setan Atau Malaikat ?

Dari pinggir kaca nako, diantara celah kain gorden, saya melihat lelaki itu mondar-mandir di depan rumah.
Matanya berkali-kali melihat kea rah rumah saya. Tangannya yang dimasukkan ke saku celana, sesekali mengelap keringat dikeningnya.
Dada saya berdebar menyaksikannya, apa maksud remaja yang bias jadi umurnya tak jauh dengan anak sulung saya yang baru kelas 2 SMU itu? Melihat tingkah lakunya yang gelisah, tidakkah dia punya maksud buruk dengan keluarga saya??? Mau merampok? Bukankankah sekarang ini orang merampok tidak lagi mengenal waktu? Siang hari saat orang lalu-lalang pun penodong bias beraksi, seperti yang diberitakan Koran, atau, dia punya masalah dengan Yudi, anak saya?
Kenakalan remaja saat ini tidak lagi enteng. Tawuran telah menjadikan puluhan remaja meninggal. Saya berdoa semoga lamunan itu itu salah semua. Tapi mengingat peristiwa buruk itu bias terjadi, saya mengunci seluruh pintu dan jendela rumah, dirumah ini, pukul sepuluh pagi seperti ini, saya hanya seorang diri . kang anto, suami saya, ke kantor. Yudi sekolah, Yuni yang sekolah sore pergi les bahasa inggris, dan Bibi Nia sudah seminggu tidak masuk.
Jadi kalau lelaki yang selalu memperhatikan rumah sayaitu menodong, saya bias apa??? Pintu pagar rumah memang terbuka, siapa saja bisa masuk.
Tapi, itu tidak juga masuk? Tidakkah ia menunggu sampai tidak ada orang yang memergoki? Saya sedikit lega saat mengapa anak muda itu berdiri di samping tiang telepon. Saya punya pikiran lain, mungkin dia sedang menunggu seseorang, pacarnya, temannya, adiknya, atau siapa saja yang janjian untuk bertemu di tiang telepon itu. Saya memang tidak mesti berburuk sangka seperti tadi, tapi di zaman ini, dengan peristiwa-peristiwaburuk, tenggang rasa yang semakin menghilang, tidakkah rasa curiga lebih baik daripada lengah.
Saya masih tidak beranjak dari persembunyian, di antara kain gorden, disamping kaca nako. Saya was-was karena anak muda itu sesekali masih melihat ke rumah. Apa maksudnya? Ah, bukankah banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak ada jawabannya.
Terlintas dipikiran saya untuk menelpon tetangga, tapi saya takut jadi ramai, bisa-bisa penghuni sekompleks mendatangi pemuda itu, iya kalau anak itu di Tanya secara baik, coba kalau belum apa-apa ada yang memukul.
Tiba-tiba, pemuda itu membalikkan badan dan masuk ke halaman rumah, debaran jantung saya mengencang kembali, saya memang mengidap penyakit jantung, tekad saya untuk menelpon tetangga sudah bulat, tapi kaki saya tidak bisa melangkah, apalagi begitu anak muda itu mendekat, saya ingat, saya pernah melihatnya dan punya pengalaman buruk dengannya. Tapi, anak muda itu sudah berada di teras rumah saya, dia hanya memasukkan sesuatu ke celah di atas pintu dan bergegas pergi, saya masih belum bisa mengambil benda itu karena kaki saya masih lemas.
Terbayang kembali di benak saya, sebelumnya saya pernah melihat anak muda yang gelisah itu di jembatan penyebrangan, entah seminggu atau dua minggu yang lalu. Saya pulang membeli bumbu kue waktu itu, tiba-tiba, diatas jembatan penyeberangan, saya ada yang menabrak, saya hamper jatuh. Si penabarak yang tidak lain adalah anak muda yang gelisah dan mondar-mandir di depan rumah itu, meminta maaf dan bergegas mendahului saya, saya jengkel, apalagi begitu sampai di rumah saya tahu dompet yang disimpen di kantong plastic, disatukan dengan bumbu kue, telah raib.
Dan hari ini, lelaki yang gelisah dan si penabrak yang mencopet itu, mengembalikan dompet saya lewat celah di atas pintu. Setelah saya periksa, uang tiga ratus ribu lebih, cincin emas yang selalu saya simpan di dompet bila bepergian dan surat-surat penting, tidak ada yang berkurang sedikitpun.
Lama saya melihat dompet itu dan melamun seperti dalam dongeng, seorang anak muda yang gelisah, yang siapa pun saya piker akan mencurigainya, dalam situasi perekonomian morat-marit sperti ini, mengembalikan uang yang telah di genggamnya, bukankah itu ajaib, seperti dalam dongeng. Atau hidup ini tak lebih dari sekedar dongeng?
Bersama dompet yang dimasukkan ke kantong plastik hitam itu saya menemukan surat yang dilipat tidak rapi. Saya baca surat yang berhari-hari kemudian tidak lepas dari pikiran dan hati saya itu. Isinya seperti ini:

"Ibu yang baik, maafkan saya telah mengambil dompet ibu. Tadinya saya mau mengembalikan dompet ibu saja, tapi saya tidak punya tempat untuk mengadu, maka saya tulis surat ini, semoga saja ibu mau membacanya.
Sudah tiga bulan saya berhenti sekolah. Bapak saya di-PHK dan tidak mampu membayar uang SPP yang berbulan-bulan sudah nunggak, membeli alat-alat sekolah dan memberi ongkos, karena kemampuan keluarga yang minim itu saya berfikir tidak apa-apa saya bersekolah sampai kelas 2 STM saja. Tapi, yang membuat saya sakit hati, bapak kemudian sering mabuk-mabukan dan judi togel yang beredar secara sembunyi-sembunyi itu.
Adik saya yang tiga orang, semuanya keluar sekolah, Emak berjualan gorengan yang dititipkan di warun-warung. Adik-adik saya membantu mengantarkannya, saya berjualan Koran, membantu Emak untuk sekedar membeli beras.
Saya sadar, kalau keaadan saya seperti ini, saya harus berjuang lebih keras lagi. Saya mau melakukannya, dari pagi sampai malam saya bekerja. Tidak saja berjualan Koran, saya juga membantu mencuci piring di warung nasi dan kadang (sambil hiburan) saya mengamen. Tapi uang yang pas-pasan itu (Emak sering gagal menabung dan saya maklum) karena masih juga diminta bapak untuk memasang judi togel, bilangnya nanti juga diganti kalau angka tebakannya tepat. Selama ini, belum pernah tebakan Bapak yang tepat. Lagi pula, emak yang taat beribadah itu tidak akan mau menerima uang dari hasil judi, saya yakin itu.
Ketika bapak semakin sering meminta uang kepada emak, kadang sambil marah-marah dan memukul, saya tidak kuat untuk diam. Saya mengusir bapak dan bapak memukul balik saya, saya membalasnya sampai bapak terjatuh-jatuh. Emak memarahi saya sebagai anak laknat, saya sakit hati, saya bingung??? Saya mesti bagaimana.
Saat Emak sakit dan bapak semakin menjadi-jadi dengan judi togelnya,sakit hati saya semakin menggumpal, tapi saya tidak tahu sakit hati oleh siapa. Hanya untuk membawa emak Emak ke dokter saja saya tidak sanggup. Bapak yang semakin sering tidur entah dimana, tidak peduli, hampir saya memukulnya lagi.
Di jalan, saat saya berjualan Koran, saya sering merasa punya dendam yang besar tapi tidak tahu dendam oleh siapa dan karena apa. Emak tidak bisa ke dokter.Tapi, orang lain bisa dengan mobil mewah melenggang begitu saja di depan saya, sesekali menelepon dengan HP. Dan di seberang halte itu, di toko/swalayan bertingkat, orang-orang mengeluarkan ratusan ribu untuk sekali makan, mereka berpakain bagus begitu rapinya, sesekali membeli banyak baju walaupun di rumah mereka masih memiliki baju yang lumayan bagus juga.
Maka tekad saya, emak harus kedokter, karena dari berjualan Koran tidak cukup, saya merencanakan untuk mencopet. Berhari-hari saya mengikuti bus kota , tapi saya tidak pernah berani menggerayangi saku orang. Keringat dingin malah membasahi baju. Saya gagal menjadi pencopet.
Dan begitu saya melihat orang-orang belanja di toko, saya melihat Ibu memasukkan dompet ke kantong plastic, maka saya ikuti ibu. Diatas jembatan penyeberangan, saya pura-pura menabarak Ibu dan cepat mengambil dompet, saya gembira ketika mendapatkan uang uang 300 ribu lebih.
Saya segera mendatangi Emak dan mengajaknya ke dokter, tapi Bu, Emak malah menatap saya tajam. Dia menanyakan, darimana saya dapat uang. Saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa itu tabungan saya atau meminjam dari teman. Tapi, saya tidak berbohong. Saya mengatakan sejujurnya, emak mengalihkan pandangannya begitu saya selesai bercerita.
Di pipi keriputnya, mengalir butir-butir air mata, Emak menangis. Bu, tidak pernah saya merasakan kebingungan seperti ini. Saya ingin berteriak sekeras-kerasnya. Dengan uang 300 ratus ribu lebih sebenarnya saya bisa makan-makan sepuasnya, mabuk-mabukan, hura-hura. Tidak apa saya jadi pencuri, tidak peduli dengan apa yang di alami oleh Ibu, dengan orang-orang yang telah saya copet, karena orang-orang juga tidak akan pernah peduli dengan apa yang saya rasakan, tapi, saya tidak bisa melakukannya, saya harus mengembalikan dompet ibu, maaf??"


Surat tanpa tanda tangan itu berulang kali saya baca. Berhari-hari saya mencari anak muda itu bingung dan gelisah itu. Di setiap halte tempat puluhan anak-anak berdagang dan mengamen, di dalam bus kota, di taman-taman kota, tapi, anak muda itu tidak pernah kelihatan lagi. Siapa pun yang berada di halte tidak mengenal anak muda itu ketika kali saya tanyakan.
Lelah mencari, di bawah pohon rindang, saya membaca dan membaca lagi surat dari pencopet itu. Surat sederhana itu membuat saya tidak tenang, ada sesuatu yang mempengaruhi pikiran dan perasaan saya. Sekarang saya tidak silau lagi dengan segala kemewahan. Ketika Kang Anto suami saya membawa hadiah-hadiah istimewa setiap kali sepulang kerja ataupun sepulang kunjungannya dari luar kota, saya tidak lagi segembira seperti biasanya, saya malah mengusulkan oleh-oleh yang biasa saja.
Kang Anto dan kedua anak saya mungkin melihat gelagat aneh dengan sikap saya akhir-akhir ini. Tapi mau bagaimana lagi, hati saya tidak bisa lagi menikmati kemewahan, tidak ada lagi keinginan saya untuk makan di tempat-tempat yang harganya ratusan ribu sekali makan, baju-baju dengan merek terkenal dan sebagainya, karena lebih bijak lagi jika uang-uang yang lebih jika saya harus tabung untuk membelanjakan kebutuhan keluarga yang lebih tepat atau buat persiapan jika ada kebutuhan yang mendadak.
Saya menolaknya mesti kang Anto bilang tidak apa sekali-kali. Saat say ulang tahun, kang Anto menawarkan untuk merayakan dimana saja, tapi, saya ingin memasak sendiri di rumah, membuat makanan untuk untuk suami dan anak-anak saya dengan tangan saya sendiri. Dan siangnya, dengan di bantu Bi Nia, lebih dari seratus bungkus nasi saya buat. Diantar Kang Anto dan kedua anak saya, nasi-nasi bungkus dibagikan kepada para pengemis, para pedagang asongan dan pengamen yang ada di setiap halte.
Di halte terakhir yang kami kunjungi, saya mengajak Kang Anto dan kedua anak saya untuk makan bersama-sama, diam-diam air mata mengalir di mata saya.
Yuni, anak saya, menghampiri saya dan bilang, “ Mama, saya bangga jadi anak Mama, mudah-mudahan saya bisa seperti Mama kelak saat saya sudah berumah tangga” .
Dan saya ingin menjadi Mama bagi ribuan anak-anak lainnya.

Sabtu, 31 Juli 2010

Hutan Paru-paru Dunia

HUTAN AKAN MEMBERIKAN YANG TERBAIK JIKA KITA BERLAKU BIJAK KEPADANYA :

Manfaat yang bisa dirasakan dalam kehidupan masyarakat perkotaan dari pembangunan hutan kota, antara lain :
1. Manfaat estetis. Warna hijau dan aneka bentuk dedaunan serta bentuk susunan tajuk berpadu menjadi suatu pemandangan yang indah dan menyejukkan.

2. Manfaat hidrologis. Struktur akar tanaman mampu menyerap kelebihan air apabila turun hujan sehingga tidak mengalir sia-sia melainkan dapat diserap tanah.

3. Manfaat klimatologis. Iklim yang sehat dan normal penting untuk keselarasan hidup manusia. Efek rumah kaca akan dikurangi dengan banyaknya tanaman dalam suatu daerah. Bahkan adanya tanaman akan menambah kesejukan dan kenyamanan lingkungan.

4. Manfaat ekologis. Keserasian lingkungan bukan hanya baik untuk satwa, tanaman, atau manusia saja. Kehidupan makhluk di alam ini saling ketergantungan. Apabila salah satunya musnah maka kehidupan makhluk lainnya akan terganggu.

5. Manfaat protektif. Pohon dapat menjadi pelindung dari teriknya matahari, terpaan angin kencang dan peredam dari suara bising.

6. Manfaat higienis. Dengan adanya tanaman, bahaya polusi mampu dikurangi karena dedaunan tanaman mampu menyaring debu dan mengisap kotoran di udara. Bahkan tanaman mampu menghasilkan oksigen yang sangat dibutuhkan manusia.

7. Manfaat edukatif. Semakin langkanya pepohonan yang hidup di perkotaan membuat sebagian warganya tidak mengenalnya lagi. Karena langkanya pepohonan tersebut maka generasi manusia yang akan datang yang hidup dan dibesarkan di perkotaan seolah tidak mengenal lagi sosok tanaman yang pernah ada. Sehingga penanaman kembali pepohonan di perkotaan dapat bermanfaat sebagai laboratorium alam.


"Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi"
Iwan Fals

Raung buldozer gemuruh pohon tumbang
Berpadu dengan jerit isi rimba raya
Tawa kelakar badut-badut serakah
Dengan hph berbuat semaunya
Lestarikan alam hanya celoteh belaka
Lestarikan alam mengapa tidak dari dulu...
Jelas kami kecewa